Rabu, 25 Februari 2015

Janji untuk mendoa

Kalau saja aku tahu dulu kita saling mendoakan, mungkin kini aku tidak sedang terjaga dalam malam. 
Berputar pada ketidakpastian yang makin luntur, dimana paginya aku akan kembali lagi menggambar buku catatanku sendiri. Tidak jelas pensil apa yang kugunakan.
Layaknya doa anak - anak sekolah yang selalu meminta nilai bagus dan tempat terbaik setelah mereka lulus, mungkin aku juga seperti mereka.
Namun lambat laun doa - doa itu seakan dijawab. 
Dijawab dengan jawaban dimana kami harus berteriak agar suara kami bisa terdengar satu sama lain.
Aku pun tidak tahu doa dari siapa yang dijawab.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar