Senin, 14 November 2016

Check point

Dan lagi
Dibawanya hal yang bergaris mimpi ke dalam tidur
Seakan tinggal dua langkah lagi
Jarak sejalan waktu
Atau memang kita melangkah?
Secepat mata terlayang
Mimpi bertumbuk segan
Mimpi bertumbuk acuh
Mimpi bertumbuk mimpi
Mimpi imitasi
Kita kembali atau cukup tersenyum?
Sekarang kita perlu sepakat
Dan lagi?



Cinta Andarini Puspaningrum 2

Cinta beda ya, mirip aktris beneran
Di warung kopi ga akan ada dialog gitu
Dilihat setengah jam, ga ada Dian Sastronya
Pikiran udah jadi Dewi dia, ternyata aktris aja
Setengah jam senyum jadi Cinta
Lima detik rada Dewi Persik
Mungkin lebih pilih waktu Cinta bertasbih
Tapi ada yang renyah
Setengah jam senyum manis
Selang dua detik langsung sinis
Semacam keluar tato kupu kupu di pinggang
Tersinis ya tetap termanis
Coba aja dites





Selasa, 02 Agustus 2016

Teras malam

Ada ragu dan mau tahu yang berselimut mesra. Egoku diapit rapat. Kau tahu siapa pemenangnya? Manusia. 
Janjinya bukan bertanding. Rasanya belum berakhir. Kita melempar, kita juga yang menghindar. 
Aku buang peluit sang wasit jauh jauh ke arah mu. Kau malah anggap aku curang. Aku tak punya saku belakang. Percayalah, sang wasit tidak akan pernah mencoba meniup sang penentu rasa. Lemparan ku baik untuk alam raya ini.



Rabu, 20 Juli 2016

Libur Magrib

Masih terjebak pada ciptaannya dan belum bisa berubah menjadi lebih dalam. Bilamana aku bisa merasakannya, rasa itu akan menjadi dasar setiap arah ku di alam ini.
Sesederhana itu aku dapat merasa hidup. Semudah itu aku jatuh. Sedalam itu aku bisa terbang dalam rasa tanpa arah.
Setiap senyum yang kau lempar seperti memang sudah dibawa sedari tadi untuk ditumpahkan sedikit demi sedikit di dekat ku. Setiap pertanyaan yang kau lampir dalam obrolan ringan ini serasa memang sudah disiapkan. Kau seperti lalai dan tidak peduli atau memang kau memegang daftar untuk semua hal tersebut? Aku mengaku kalah kalau memang seperti itu adanya. Kau tidak sengaja menjatuhkan kertas itu, bukan? Atau kau juga menikmatinya? Entah lah, mungkin aku terlalu peduli pada malam. 
Jikalau memang benar adanya, kau jahat. Bukan kepada ku, tetapi kepada waktu. Semua yang kau lepas sudah begitu tenang menjauh, namun jangan pernah kau berani tanya kepada ku. Berharap masih menjadi dosa ku yang paling menyengat.




Kamis, 25 Februari 2016

Pengendali Hujan

Seorang laki laki paruh baya sedang berjalan di tepian jalan raya. Saat itu hari sudah malam dan kehidupan di pinggiran kota ini mulai beristirahat dari semua kesibukan. Sambil berjalan pelan, Ia menggendong seorang anak perempuan berkerudung coklat yang sedaritadi hanya diam. Seorang anak perempuan yang juga mengenakan kerudung terlihat di samping laki laki tersebut ikut berjalan dengan bergandengan tangan tak lepas sedikitpun. Sambil melakukan itu semua, Ia masih bisa menjinjing sebuah karung besar dipundaknya tanpa bisa menyembunyikan wajahnya yang lelah. 

Mungkin sudah takdir Tuhan bahwa kita terlahir di dunia ini menjadi seorang bayi tanpa kesadaran, kemudian menjadi manusia dewasa dan mati. Kita akan terkaget bila lahir dengan memiliki kesadaran penuh terhadap kehidupan ini dan segala keramaiannya. Seorang bayi tidak akan bertanya jika saat ia lahir melihat dunia in tidak sama seperti dengan yang ia yakini seharusnya. Seorang bayi akan menerima dimanapun ia melihat dunia ini pada saat pertama kali. Bahkan seorang anakpun akan tetap bertahan bersama orang yang setiap harinya ada di dekat mereka dengan semua pengetahuan yang telah ia terima sejak dilahirkan. Namun seorang anak tetaplah seorang anak. Mereka tidak akan lepas dari sifat lugunya yang melihat dunia ini seperti berjalan beriringan. Selalu ada hal yang ingin mereka tanyakan kepada orang yang setiap harinya ada di dekat mereka. Terutama tentang bagaimana dunia ini berjalan.

Seperti saat sekarang ini, mereka sedang berjalan dibawah awan malam yang terlihat tidak bersahabat. Laki laki tersebut tidak mampu menjawab satupun pertanyaan dari anak perempuan yang terus berjalan disampingnya. Ia hanya terus berkata untuk berjalan lebih cepat karena akan turun hujan. Padahal ia sendiri yang tidak bisa bergerak lebih cepat lagi dengan semua beban yang ia bawa.

Tidak lama kemudian, hujan turun. Dan aku disini masih tidak mampu untuk menghentikan hujan turun malam ini.


...

Selasa, 26 Januari 2016

Meraung Lemah

Untuk mereka yang mengarak tawa sebagai batara
Mereka yang menunduk mencari kertas baru untuk menyalin
Mereka yang mengantri untuk minyak dengan harga baru
Mereka yang melihat seikat buas tanpa bukti dengan mata tanpa harapan dari mesin yang berjalan diatas tanah basah
Bertanya dalam hati "Apa mereka buta? atau kami yang hilang waktu?"
dan kemudian hanya terus berjalan
Sesekali sang buas melompat di harapan
namun kalah oleh buayan 'disana kami bisa menari'
Ditutup cindai kami malah terbuai
Sepanjang waktu terus terbuai pongah
mendiani harapan dengan 'ah sudah lah'
Saat itu tak terdengar sangar sedikitpun
Semesta kecil berpikir pendek
Jauh dari perasaan aku tak mau mengerti
tapi ini aku yang tertumbuk akal