Rabu, 11 Maret 2015

Bincang malam

Sudah lama tidak melakukan tradisi yang biasanya gue sering lakukan saat masih menuntut ilmu secara formal. Jalan. Hal paling sederhana yang dulu biasanya sering gue lakukan untuk sekedar berbincang dengan diri gue sendiri, menanyakan bagaimana kabar diri gue disana, pendapat tentang hal - hal yang dilewatin saat berjalan, atau terbang jauh untuk  sekedar bersepakat tentang masa lalu dan berkompromi untuk masa depan. Sedikit aneh memang didengarnya, namun entah mau percaya atau tidak, saat gue memilih berjalan ketimbang nebeng atau menggunakan angkutan umum, sebenernya itu adalah pilihan diri gue. Dan selalu ada dialog ringan namun tetap menarik-untuk gue-yang terus berlanjut seiring kaki yang terus melangkah kedepan sedikit demi sedikit hingga sampai ke tempat singgah.


Malam itu gue memilih jalan untuk kembali ke kamar berukuran 3 x 4 meter setelah sibuk dengan hal - hal kerja. Di lima puluh meter pertama gue, gue ga menemukan siapaapun untuk diajak berbincang. Kemudian gue membakar satu batang rokok. Satu batang pertama sudah hampir habis, namun tetap gue belum menemukan siapapun. Saat itu jalanan masih cukup ramai dengan para pedagang. Untuk ukuran ibukota, haram hukumnya bagi para penyaji kuliner untuk berhenti berkedip jika hari belum berganti. Gue mencoba untuk memperhatikan jalanan sekitar. Mobil, motor, dan sepeda, mereka seakan sedang berada dalam suatu perlombaan dan berebut untuk sampai di garis finish mereka masing - masing. Kemudian gue mulai berpikir, apakah gue yang sedang jalan ini juga dalam perlombaan yang sama?  Dan akhirnya gue menemukan teman berbicang untuk jalan malam itu. Rasanya sudah lama tak bersua dengan dia yang selalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Mungkin.


            Gue masih memperhatikan jalanan dengan mobil dan motor yang terus berlalu lalang tanpa henti mendahului gue. Dia pun ikut memperhatikan apa yang gue perhatikan.


            "Apakah kau resah dengan kenyataan bahwa kau sekarang tidak memiliki hal - hal duniawi tersebut? Hidup memang seperti jalanan ini kawan, sudah disediakan dari trotoar, jalur lambat, sampai jalur cepat. Untuk mereka yang tidak punya waktu untuk sekedar berbincang dengan trotoar dan daun - daun yang sudah layu, mereka langsung bergegas menuju kesana, entah ada apa disana. Seorang tukang siomay pun akan mengayuh pedal sepedanya tidak berhenti hingga sang raja memanggilnya untuk  merasakan keringat dari lembah buatan". 


            Gue bertanya apakah gue harus mengikuti mereka untuk ikut di jalur cepat? Dia malah tertawa dan kemudian menjawab, "sudah gilanya kau mau berjalan di jalur cepat? Kau butuh benda bermotor seperti itu untuk di jalur cepat". Gue merasa agak aneh dengan jawaban dia. Gue bilang terdengar agak materialis omongan dia, apa yang terjadi dengan kau?


            "Terasa sekali ternyata kau sudah jarang bertemu dengan ku dan berbincang santai seperti ini, ya?". Kau yang sudah lama tidak datang, kataku.


            " Kau yang selalu berpesta, sampai lupa sedang berdiri dimana. Kau beruntung aku bisa  datang malam itu. Kalau tidak, mungkin kau sudah ditabrak oleh mobil yang memang dibuat tanpa kaca depan". Gue cuma bisa terdiam saat dia berkata seperti itu. Memang benar, gue selama ini seperti sedang berlari terus tanpa melihat sekitar.


"Aku tidak sedang berbicara tentang mobil, atau bahkan mereknya. Coba kau lihat hidup mu. Kau bekerja terus, berusaha menyelesaikan suatu pekerjaan agar bisa menyelesaikan pekerjaan yang lain. Kau mencoba menggunakan waktu luang mu agar kau bisa "bercinta" dengan pekerjaan yang lain lagi, hahaha". Gue bekerja untuk tetap hidup.


"Tetapi hidup tidak untuk hanya bekerja, hidup ada untuk kita melihat sekitar dan merasakan semuanya". Cukup untuk ceramah hidup malam itu, gue hanya mau menikmati jalanan malam sekarang.


"Oke, tapi apakah kau tidak bisa melihatnya? Maksud ku, saat kau sedang bekerja hingga keringat kau tak keluar, itulah kau yang sedang berada di jalur cepat. Atau setidaknya kau merasa sedang di jalur cepat". Itu berarti baik untuk gue kan?


"Ya, jika kau memiliki kendaraan atau dalam kendaraan umum bersama sama yang lainnya. Tidak jika kau ternyata hanya sedang berjalan disana. kau bukan hanya menghalangi mereka para pemburu waktu, tetapi juga sangat rentan untuk dihantam dari belakang". Gue berpikir bahwa apa yang dia katakan memang ada benarnya. Gue membakar rokok kedua gue setelah berjalan satu kilometer.


"Saat kau sedang berada di jalur cepat dan juga dalam kendaraan yang tepat, maka kau akan sampai ke garis yang memang menjadi tujuan mu dengan cepat. Tetapi saat kau sedang berjalan, usahakan kau bisa menempatkan dirimu di trotoar, sehingga kau bisa menyapa daun - daun kering yang belum dibersihkan, sehingga kau bisa menyapa trotoar dengan setiap gesekan sepatumu dan merasakan betapa cepatnya mereka semua, para pemburu waktu itu, bergerak hingga lupa untuk sekedar memperhatikan bahwa saluran air di jalan itu ternyata tidak berfungsi".

Bukannya berbincang, malam itu gue merasa sedang diingatkan kembali oleh "guru lama" gue tentang bagaimana memposisikan diri pada situasi dan kondisi yang berbeda - beda. Gue ingat kalau dulu dia pernah mengarahkan gue untuk tidak berbelok secara tiba - tiba jika ingin bergeser ke tempat yang lebih tenang ataupun sebaliknya. Jalan malam itu membuat gue ingat akan pentingnya untuk bergerak dengan bijaksana dalam mengambil alih kendali akan suatu situasi. Perbincangan itu terus berlanjut hingga gue membakar rokok ketiga gue. Saat gue ingin membakar rokok ketiga gue, dia berkata kalau dia ingin kembali ke tempatnya. Memang sudah terlalu jauh dia ikut gue jalan malam itu. Gue tidak jadi membakar rokok keempat gue dan memilih untuk menikmati setiap bangunan yang ada diantara jalanan jakarta malam itu. Mereka seakan ingin memberitahu keunikan meraka masing - masing tanpa menggunakan sepatah katapun. Malam itu, di langkah – langkah terakhir gue menuju tempat singgah, gue baru sadar, atau setidaknya sadar kembali, kalau mereka, apapun yang gue temui sepanjang jalan, menyimpan hal - hal yang mungkin nantinya gue sangat butuhkan.




Selasa, 03 Maret 2015

Scars on land

When we get caught between the moon and New York City
I know it's crazy, but it's true
If you get caught between the moon and New York City
The best that you can do is fall in love


Yogyakarta


Walau kini kau telah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati