Sudah lama tidak
melakukan tradisi yang biasanya gue sering lakukan saat masih menuntut ilmu
secara formal. Jalan. Hal paling sederhana yang dulu biasanya sering gue
lakukan untuk sekedar berbincang dengan diri gue sendiri, menanyakan bagaimana
kabar diri gue disana, pendapat tentang hal - hal yang dilewatin saat berjalan,
atau terbang jauh untuk sekedar bersepakat tentang masa lalu dan
berkompromi untuk masa depan. Sedikit aneh memang didengarnya, namun entah mau
percaya atau tidak, saat gue memilih berjalan ketimbang nebeng atau menggunakan
angkutan umum, sebenernya itu adalah pilihan diri gue. Dan selalu ada dialog
ringan namun tetap menarik-untuk gue-yang terus berlanjut seiring kaki yang
terus melangkah kedepan sedikit demi sedikit hingga sampai ke tempat singgah.
Malam itu gue memilih
jalan untuk kembali ke kamar berukuran 3 x 4 meter setelah sibuk dengan hal -
hal kerja. Di lima puluh meter pertama gue, gue ga menemukan siapaapun untuk
diajak berbincang. Kemudian gue membakar satu batang rokok. Satu batang pertama
sudah hampir habis, namun tetap gue belum menemukan siapapun. Saat itu jalanan
masih cukup ramai dengan para pedagang. Untuk ukuran ibukota, haram hukumnya
bagi para penyaji kuliner untuk berhenti berkedip jika hari belum berganti. Gue
mencoba untuk memperhatikan jalanan sekitar. Mobil, motor, dan sepeda, mereka
seakan sedang berada dalam suatu perlombaan dan berebut untuk sampai di garis
finish mereka masing - masing. Kemudian gue mulai berpikir, apakah gue yang
sedang jalan ini juga dalam perlombaan yang sama? Dan akhirnya gue
menemukan teman berbicang untuk jalan malam itu. Rasanya sudah lama tak bersua
dengan dia yang selalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Mungkin.
Gue
masih memperhatikan jalanan dengan mobil dan motor yang terus berlalu lalang
tanpa henti mendahului gue. Dia pun ikut memperhatikan apa yang gue perhatikan.
"Apakah
kau resah dengan kenyataan bahwa kau sekarang tidak memiliki hal - hal duniawi
tersebut? Hidup memang seperti jalanan ini kawan, sudah disediakan dari
trotoar, jalur lambat, sampai jalur cepat. Untuk mereka yang tidak punya waktu
untuk sekedar berbincang dengan trotoar dan daun - daun yang sudah layu, mereka
langsung bergegas menuju kesana, entah ada apa disana. Seorang tukang siomay
pun akan mengayuh pedal sepedanya tidak berhenti hingga sang raja memanggilnya
untuk merasakan keringat dari lembah buatan".
Gue
bertanya apakah gue harus mengikuti mereka untuk ikut di jalur cepat? Dia
malah tertawa dan kemudian menjawab, "sudah gilanya kau mau berjalan
di jalur cepat? Kau butuh benda bermotor seperti itu untuk di jalur
cepat". Gue merasa agak aneh dengan jawaban dia. Gue bilang terdengar agak
materialis omongan dia, apa yang terjadi dengan kau?
"Terasa
sekali ternyata kau sudah jarang bertemu dengan ku dan berbincang santai seperti
ini, ya?". Kau yang sudah lama
tidak datang, kataku.
"
Kau yang selalu berpesta, sampai lupa sedang berdiri dimana. Kau beruntung aku
bisa datang malam itu. Kalau tidak,
mungkin kau sudah ditabrak oleh mobil yang memang dibuat tanpa kaca
depan". Gue cuma bisa terdiam saat dia berkata seperti itu. Memang benar,
gue selama ini seperti sedang berlari terus tanpa melihat sekitar.
"Aku tidak
sedang berbicara tentang mobil, atau bahkan mereknya. Coba kau lihat hidup mu.
Kau bekerja terus, berusaha menyelesaikan suatu pekerjaan agar bisa
menyelesaikan pekerjaan yang lain. Kau mencoba menggunakan waktu luang mu agar
kau bisa "bercinta" dengan pekerjaan yang lain lagi, hahaha". Gue bekerja untuk
tetap hidup.
"Tetapi hidup
tidak untuk hanya bekerja, hidup ada untuk kita melihat sekitar dan merasakan
semuanya". Cukup untuk ceramah
hidup malam itu, gue hanya mau menikmati jalanan malam sekarang.
"Oke, tapi
apakah kau tidak bisa melihatnya? Maksud ku, saat kau sedang bekerja hingga
keringat kau tak keluar, itulah kau yang sedang berada di jalur cepat. Atau
setidaknya kau merasa sedang di jalur cepat". Itu berarti baik
untuk gue kan?
"Ya, jika kau
memiliki kendaraan atau dalam kendaraan umum bersama sama yang lainnya. Tidak
jika kau ternyata hanya sedang berjalan disana. kau bukan hanya menghalangi
mereka para pemburu waktu, tetapi juga sangat rentan untuk dihantam dari
belakang". Gue berpikir bahwa
apa yang dia katakan memang ada benarnya. Gue membakar rokok kedua gue
setelah berjalan satu kilometer.
"Saat kau sedang
berada di jalur cepat dan juga dalam kendaraan yang tepat, maka kau akan sampai
ke garis yang memang menjadi tujuan mu dengan cepat. Tetapi saat kau sedang
berjalan, usahakan kau bisa menempatkan dirimu di trotoar, sehingga kau bisa
menyapa daun - daun kering yang belum dibersihkan, sehingga kau bisa menyapa
trotoar dengan setiap gesekan sepatumu dan merasakan betapa cepatnya mereka semua, para pemburu waktu itu, bergerak hingga lupa untuk sekedar memperhatikan bahwa saluran air di
jalan itu ternyata tidak berfungsi" .
Bukannya
berbincang, malam itu gue merasa sedang diingatkan kembali oleh "guru
lama" gue tentang bagaimana memposisikan diri pada situasi dan kondisi yang
berbeda - beda. Gue ingat kalau dulu dia pernah mengarahkan gue untuk tidak
berbelok secara tiba - tiba jika ingin bergeser ke tempat yang lebih tenang
ataupun sebaliknya. Jalan malam itu membuat gue ingat akan pentingnya untuk
bergerak dengan bijaksana dalam mengambil alih kendali akan suatu situasi.
Perbincangan itu terus berlanjut hingga gue membakar rokok ketiga gue. Saat gue
ingin membakar rokok ketiga gue, dia berkata kalau dia ingin kembali ke
tempatnya. Memang sudah terlalu jauh dia ikut gue jalan malam itu. Gue tidak
jadi membakar rokok keempat gue dan memilih untuk menikmati setiap bangunan
yang ada diantara jalanan jakarta malam itu. Mereka seakan ingin memberitahu
keunikan meraka masing - masing tanpa menggunakan sepatah
katapun. Malam itu, di langkah – langkah terakhir gue menuju tempat
singgah, gue baru sadar, atau setidaknya sadar kembali, kalau mereka, apapun yang gue temui sepanjang jalan, menyimpan
hal - hal yang mungkin nantinya gue sangat butuhkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar