Kamis, 04 Oktober 2018

Sejauh Tahun Cahaya

Satu panggilan hangat. 
Seperti ia benar sampai ke telingaku dengan senyum. 
Walau hari gelap, aku masih percaya senyum itu. 
Mungkin salahku juga tidak segera berteriak.

Serupa satu sistem bintang ganda yang sama kuat
kita tidak pernah jatuh ke dalam gravitasi manapun.
Terus berputar mengitari sebuah titik imajiner tanpa pernah ada ledakan.
Kau menarik, aku tertarik, tidak jatuh.
Kau bersinar, aku gemerlap, terangnya tak sampai ke mukaku yang gelap.



Rabu, 15 Agustus 2018

Lajur kanan di Sungai Bukit Asam

Sejauh ini
Sudah selama ini
Gambar seakan garis yang masih sering dibaca
Tiap lembar naik ke meja makan
dihidangkan hangat di malam yang lambat.
Yaitu di sudut ruang tunggu
menunggu pukul 12 untuk sampai ke rumah.

Antara warisan memori dunia dan ingatan wajahmu
Yang mana yang masih tersisa esok pagi?
Sejauh dua pekan mengajak pikiran bertemu yang asing
Semudah dua daun pintu untuk kembali ke tengah jalan berliku
Sebenarnya jalan itu lurus.
Mataku yang memindahkan semua
aspal dan trotoar jalan ke seberang.
Hanya karena kau sedang melihat ke seberang.

Di sudut ruang tunggu
aku tidak menunggumu.
Semua yang tidak kau katakan benar adanya.
Dulu aku mengangguk untuk diammu.

Di sudut ruang tunggu
aku menunggu pukul 12 untuk sampai ke rumah.
Supaya aku ingat rumahku
tidak dibenturkan dengan senyummu.


Sabtu, 19 Mei 2018

Sampai Saat Ini

Masih lembut rasanya
Disana aku benar-benar menjawab pertanyaanmu
Entah malam atau bukan
tapi ada meja untuk empat orang
Dua untuk kita
dua untuk mereka
rapi urutannya
Kita duduk, aku mulai dan kau dekat
Yang ku ingat latarnya merah dan senyummu
Kemudian tirai acara ditutup perlahan
sayangnya hanya aku yang sadar
Semua tadi itu apa? program komputer?
Kalau iya aku tidak mau kesadaran
Atau hanya acara kuis?
Tapi kau bukan pertanyaan
Kau itu jawaban sampai saat ini







Sabtu, 21 April 2018

September, 2010

Matahari baru menampakan sinarnya
Terasa hangat di punggung seorang lelaki,
ia terbangun dan memulai semuanya
Ia berlari mencari keindahan

Melompat, berteriak, kemudian lelah
sekali ia menatap matahari tepat di atas kepalanya
Silau tak dapat dilihat, ia hanya memejam
Kemudian dilanjutkan segala urusannya dengan batu dan kertas

Hingga sore datang
Ia lepas semua batu dan kertas yang menempel di tubuhnya
Ia luangkan waktu untuk menatap matahari sore
Ternyata disana yang ia cari selama ini

Indah hingga mampu melepas warna kelabu
Ia sadar keindahannya tinggal sesaat
karena sang matahari akan segera bergerak menuju gelap
Namun sang lelaki berjanji:

Tak peduli hujan apa yang turun dari langit
Tak peduli awan apa yang tebal menutupi
Ia akan terus menatap matahari
Hingga wangi sinarnya hilang dari pandang






Jumat, 23 Februari 2018

Satu Ruas Jalan di Tengah Malam

Ini kisah tentang satu ruas jalan di tengah malam. 
Di pertigaan perjalanan terhenti oleh lampu merah. Dua bocah sudah bersiap untuk membuka satu pentas acara megah. Yang kecil mengucap selamat dan sambut layak peresmiaan gedung baru, lalu satu lagu mereka mulai bersamaan. Mengitar sekitar lampu jalan. Banyak yang bersuka cita, mungkin perjalanan mereka malam ini bakal lebih dikenang.

Maju sedikit. Lelah sedikit. Henti sedikit sembari menunggu mesin cetak selesai menggerung. Hembus kretek pengganti makan malam. Sekali hisap berarti nasi. Yang kedua pasti lauknya. Diseruput teh panas atau kalau tidak ada berarti itu yang ketiga. Terus gantian. Nasi, lauk pauk, teh panas. Penjaja nasi goreng mungkin iba, ia dekati asal asap yang baunya seperti nasi, lauk pauk, dan teh panas. Ternyata bukan itu sebabnya, ia juga penasaran kapan mesin cetak di dalam selesai menggerung.

Tengah malam begini, aspal seperti Yang Mulia. Disitu ada aspal, manusia pasti menggelinjang. "Aku adalah bukti peradaban manusia! Aku adalah manusia!" Begitu juga dengan sampah. Bung ini ada ada saja. 

Sudut kota. Mungkin lebih enak didengar karena tidak ada sampah dalam bayangan sudut kota. Di sudut kota ada bapak yang duduk diam dipinggir aspal. Tidak gerak. Sebentar, ditengok kiri kanan tidak ada pemahat atau pelukis. Namun, duduknya cermin abad keemasan, Megah sambil menengok kiri. Sepertinya ia memang tunggu abad itu datang lagi. Jadi tak perlu malam malam begini mematung. 

Setengah perjalanan belum ada yang bisa diganjar emas untuk satu ruas jalan di tengah malam. Sekalinya ia melihat gelas air dingin, langsung dijemba tanpa bicara. "Aku sudah ditindas seharian!" tipikal negara berkembang. Atau mungkin karena para pecundang. Yang berani beraninya mengambil kesempatan. Yang berani beraninya di tengah malam yang khusu' ini menebar darah untuk siang. Bajingan. Mau disamakan dengan pelacur? Jangan harap!

Mereda panas aspal di tengah malam. Entah salah liat atau bukan, ada Messi di trotoar. Ia mengoper bola dengan kaki belakang lewat udara ke arah lawan tandingnya. Eh, tapi bukan! Malam ini ia kawan satu timnya. Ia oper bola lewat udara ke arah Ronaldo. Ada dua pemain tenar lain di trotoar jalan itu. Ini baru malam. Mereka berkumpul, bersiasat, bagaimana agar siang nanti mereka bisa bersaing kembali.

Sepertinya sudah jauh ke depan. Ah, manusia gerobak. Yang lewat hanya bisa minta maaf. Yang dipilih selalu menyangkal kalau mereka nyata. Ia bungkus benar tubuhnya dengan sarung. Itu nyata. Sedikit sedikit bergeser ke lampu jalan. Supaya hangat. Supaya mereka lihat. Bukan karena dipinggir satu ruas jalan, tapi karena sarung.

Mungkin sudah terlalu jauh. Ada burung elang besar menjaga gerbang. "Berputar sekarang, sebelum terlambat! di balikku ada surga! ada uang!" Kalau waras kita ikut apa kata elang. Kemudian berputar.

Terlalu laju. Mungkin fajar sudah tiba. Nyatanya belum. Kenapa jadi laju? Ramai sekali. Apa sedari tadi salah arah? Ya sudah, ikuti saja kebanyakan mereka. Yang penting arahku pulang. Mungkin mereka juga mengarah sama. Kalau begitu mereka harus tahu. "Hei! Tempat parkir di rumah tidak cukup! Cari tempat lain! Benar benar banyak yang mesti ku cegat.

Tak usah pakai cinta lah, ya.

Kamis, 08 Februari 2018

Hallo Bandoeng (1929)

Perempuan tua itu duduk gemetar di kantor telegraf
Dengan ramah Pegawai disana berbicara:
“Ibu sudah tersambung dengan Bandung”
Bergetar kakinya yang sudah kaku, Beliau berdiri meraih mikrofon
Kemudian ia dengar, oh keajaiban
Dia mendengar suara anak lakinya yang lembut

"Hallo! Bandung!" "Ya Bunda, aku disini!"
"Salam anakku sayang", ia ucap dengan menahan tangis
"Hallo, hallo! Apa kabanya, Bunda?"
Kemudian beliau hanya menjawab, "Aku sangat merindukanmu, nak!"

“Anakku sayang”, beliau sebut dengan lembut
“Berbulan-bulan saya sudah menabung”
“Untuk berbincang denganmu”
“Saya akan keluarkan semua uangku”
Dengan keterharuan kemudian ia menjawab, "Bunda”
“Masih ada empat tahun, baru selesai”
“Bunda, saya akan memelukmu”
“Kalau saya tiba di Holland!"

"Anakku sayang", beliau tanya, "bagaimana dengan isterimu yang berkulit sawo matang?"
"Baik-Baik saja, Bu", katanya
"Dan kita membicarakan Bunda disini setiap hari”
"Dan anak-anakku setiap malam"
"Sebelum tidur mengucapkan doa"
"Untuk omanya yang belum dikenal"
"Dengan sebuah kecup di foto Bunda"

"Tunggu sebentar, Bunda", katanya sambil tertawa
"Aku akan memanggil anakku yang bungsu"
Tak lama kemudian terdengar dengan jelas
"Oma sayang, tabe, tabe!"
Tak tertahankan hatinya mendengarnya
Dengan lembut beliau berbisik,
"Oh Tuhan, terima kasih telah mengijinkan aku mendengarkan”
Kemudian beliau jatuh bersimpuh sambil menangis

"Hallo! Bandung!" "Ya Bunda, aku ada disini!"
Beliau tidak menjawab. Ia hanya mendengar isak tangis
"Hallo! Hallo!" ada terdengar suara klik dari seberang lautan
Beliau telah tiada dan anak kecil itu berseru "Tabe"


Willy Derby / Wieteke van Dort