Kamis, 08 Februari 2018

Hallo Bandoeng (1929)

Perempuan tua itu duduk gemetar di kantor telegraf
Dengan ramah Pegawai disana berbicara:
“Ibu sudah tersambung dengan Bandung”
Bergetar kakinya yang sudah kaku, Beliau berdiri meraih mikrofon
Kemudian ia dengar, oh keajaiban
Dia mendengar suara anak lakinya yang lembut

"Hallo! Bandung!" "Ya Bunda, aku disini!"
"Salam anakku sayang", ia ucap dengan menahan tangis
"Hallo, hallo! Apa kabanya, Bunda?"
Kemudian beliau hanya menjawab, "Aku sangat merindukanmu, nak!"

“Anakku sayang”, beliau sebut dengan lembut
“Berbulan-bulan saya sudah menabung”
“Untuk berbincang denganmu”
“Saya akan keluarkan semua uangku”
Dengan keterharuan kemudian ia menjawab, "Bunda”
“Masih ada empat tahun, baru selesai”
“Bunda, saya akan memelukmu”
“Kalau saya tiba di Holland!"

"Anakku sayang", beliau tanya, "bagaimana dengan isterimu yang berkulit sawo matang?"
"Baik-Baik saja, Bu", katanya
"Dan kita membicarakan Bunda disini setiap hari”
"Dan anak-anakku setiap malam"
"Sebelum tidur mengucapkan doa"
"Untuk omanya yang belum dikenal"
"Dengan sebuah kecup di foto Bunda"

"Tunggu sebentar, Bunda", katanya sambil tertawa
"Aku akan memanggil anakku yang bungsu"
Tak lama kemudian terdengar dengan jelas
"Oma sayang, tabe, tabe!"
Tak tertahankan hatinya mendengarnya
Dengan lembut beliau berbisik,
"Oh Tuhan, terima kasih telah mengijinkan aku mendengarkan”
Kemudian beliau jatuh bersimpuh sambil menangis

"Hallo! Bandung!" "Ya Bunda, aku ada disini!"
Beliau tidak menjawab. Ia hanya mendengar isak tangis
"Hallo! Hallo!" ada terdengar suara klik dari seberang lautan
Beliau telah tiada dan anak kecil itu berseru "Tabe"


Willy Derby / Wieteke van Dort

Tidak ada komentar:

Posting Komentar